Sejarah Pelabuhan Tanjung Perak dari Masa Hindia Belanda hingga Proyek Tol Laut

 

Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya merupakan satu dari 24 pelabuhan pengumpul bagi jalur tol laut di Indonesia. Program Poros Maritim Nasional atau tol laut yang dicanangkan pertama kali pada 4 November 2015 merupakan jalur distribusi logistik menggunakan kapal laut dari ujung Pulau Sumatera hingga ujung Papua.

Tak hanya logistik, pelabuhan ini juga melayani kapal Pelni yang mengangkut penumpang dengan jalur transportasi ke beberapa daerah di Indonesia timur.

Sejarah Pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak

Melansir laman dephub.go.id dan jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, sejak dulu wilayah ini terkenal dalam melayani arus perdagangan lokal, regional dan internasional.

Kapal-kapal pedagang dan perahu-perahu melakukan bongkar muat barang di selat Madura dengan dibantu perahu dan kapal tongkang ke Jembatan Merah. Melalui Sungai Kalimas, perahu mengarah dari dan ke kapal di Selat Madura ke Jembatan Merah untuk melakukan aktivitasnya terutama dalam distribusi barang.

Seiring berjalannya waktu, dermaga di Kalimas atau Jembatan Merah semakin tidak mencukupi untuk menampung padatnya kapal yang datang. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Ir.W.de Jongth menyusun rencana pelabuhan tanjung perak agar kapal-kapal bisa melakukan bongkar muat langsung tanpa harus melalui perahu atau tongkang pada tahun 1857. Namun rencana ini tidak bisa direalisasikan karena terkendala oleh perhitungan biaya yang sangat tinggi.

 

Sepuluh tahun kemudian, Ir.WB. Van Goor membuat rencana yang mengharuskan kapal untuk merapat pada kade.

 

Untuk mendukungnya, dua ahli dari Belanda didatangkan yaitu Prof. DR. J Kraus dan G.J de Jongth untuk memberi masukan. Setelah tahun 1910, pembangunan tanjung perak baru dimulai dengan menggunakan kade atau tambatan kapal yang belum sepenuhnya selesai. Selesainya proyek ini membuat kapal-kapal Samudera bisa langsung melakukan bongkar muat di pelabuhan. Pelabuhan Kalimas tetap beroperasi dan dialihkan untuk melayani kapal layar, sementara Jembatan Merah perlahan ditinggalkan. Kemudian pada tahun 1983 pembangunan Terminal Mirah diselesaikan yang merupakan terminal antar pulau. Sementara untuk penumpang antar pulau dibangun di kawasan Jamrud di bagian utara yang berdampingan dengan terminal ferry Surabaya-Madura.

Pembangunan Terminal Petikemas dan Tol Laut

Pada 1992 juga diselesaikan pembangunan Terminal Petikemas Surabaya yang bertaraf internasional. Perluasan Pelabuhan Tanjung Perak termasuk perluasan dermaga kontainer, penambahan fasilitas, pembangunan terminal penumpang, juga berdampak pada pembangunan kawasan industri di sekitar pelabuhan. Fasilitas yang disediakan juga sangat lengkap meliputi pelayanan air bersih, bunker, Terminal Jamrud, Terminal Berlian, Terminal Nilam, Terminal Mirah, Terminal Kalimas, Terminal Penumpang, Terminal Ro-Ro, dan Terminal Peti Kemas.

Posisi penting Pelabuhan Tanjung Perak juga menjadikannya bagian dari program tol laut sebagai pelabuhan pengumpul. Melansir laman resminya, PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) juga melepas pelayaran perdana kapal tol laut di Pelabuhan Tanjung Perak pada Senin (3/1/2022). PELNI akan melayani beberapa trayek dengan rute melalui Pelabuhan Tanjung Perak yaitu Trayek H-1, T-10, T-13, T-14, dan T-15.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *