Harapan Besar Merger Pelindo

 

Rencana pemerintah untuk menggabungkan atau merger empat BUMN pelabuhan, yaitu PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo I, II, III, dan IV menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero) akan segera terwujud. Sesuai dengan rencana awal, merger akan dilakukan pada 1 Oktober 2021. Aksi korporasi perusahaan pelabuhan pelat merah itu merupakan salah satu strategi pemerintah untuk menekan biaya logistik nasional. Sehingga, harapannya iklim investasi dalam negeri dapat tumbuh lebih cepat. Wacana integrasi empat BUMN operator pelabuhan itu sebenarnya sudah lama dibahas oleh pemerintah. Tercatat pada 2015, Presiden Joko Widodo sempat menyinggung reformasi ekosistem logistik nasional, salah satunya melalui integrasi pelabuhan.

Tingginya biaya logistik menjadi salah satu alasan wacana tersebut telah lama dibahas oleh berbagai pihak terkait. Berdasarkan data Kementerian Keuangan tahun 2019, biaya logistik di Indonesia masih tergolong mahal yaitu mencapai 23,5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding negara tetangga atau negara raksasa lain, yakni, Singapura (8 persen PDB), Amerika Serikat (8 persen PDB), Uni Eropa (9 persen PDB), Jepang (9 persen PDB), Korea Selatan (9 persen PDB), India (13 persen PDB), Malaysia (13 persen PDB), dan China (15 persen PDB). Biaya logistik RI yang masih terbilang mahal ini menjadi salah satu alasan investor enggan untuk menanamkan modalnya di Tanah Air.

Oleh karenanya, pemerintah terus melakukan pembahasan terkait integrasi keempat perusahaan pelabuhan milik negara. Integrasi diharap bisa ciptakan efisiensi Setelah melalui pembahasan panjang, rencana merger empat BUMN pelabuhan bakal segera terwujud. Keempat perusahaan sepakat untuk melakukan merger, dimana Pelindo II akan bertindak sebagai perusahaan penerima penggabungan. Merger tersebut diharapkan dapat mengatasi berbagai kekurangan yang dihadapi ketika BUMN pelabuhan beroperasi secara terpisah, seperti pelabuhan nasional yang kurang terkoordinasi, operasi yang kurang efisien dan tidak terstandar, capital expenditure (capex) yang tidak optimal dan finansial yang terbatas, program pengembangan SDM yang terlalu beragam, dan sistem TI yang bervariasi sehingga terjadi tumpang tindih.

Direktur Utama Pelindo IV Prasetyadi mengatakan, penggabungan keempat perusahaan pelat merah itu akan mampu menciptakan efisiensi operasional, melalui standarisasi proses bisnis dan pelayanan di pelabuhan. Hal ini diporoyeksi dapat meningkatkan produktivitas di kawasan pelabuhan. Merger diproyeksi dapat menekan biaya logistik secara bertahap. Targetnya, biaya logistik di pelabuhan dapat turun sekitar 1,6 persen pada 2025 “Situasi ini secara bertahap akan berdampak terhadap penurunan harga barang yang diangkut,” ujar dia dalam sebuah diskusi, dikutip Senin (20/9/2021). Prasetyadi menjelaskan, tingginya biaya logistik saat ini disebabkan oleh operasional dan infrastruktur pelabuhan yang belum optimal.

Oleh karenanya, integrasi pelayanan dari keempat perusahaan pelabuhan milik pemerintah ditargetkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. “Pemerintah akan melakukan integrasi Pelindo untuk meningkatkan konektivitas nasional dan standarisasi pelayanan pelabuhan, layanan logistik yang terintegrasi, serta meningkatkan skala usaha dan penciptaan nilai BUMN Layanan Pelabuhan melalui keunggulan operasional serta komersial dan keuangan,” tuturnya. Harapan yang sama juga disampaikan oleh pengusaha logistik nasional. Munculnya efisiensi akibat merger diharap dapat menekan biaya logistik yang selama ini dinilai masih mahal. “Perusahaan jika menjadi satu holding besar fixed costnya diharapkan turun. Lalu secara jaringan akan lebih baik karena di internal perusahaan mempermudah koordinasi,” ujar Direktur Utama Lookman Djaja Logistic, Kyatmaja Lookman.

Selain menciptakan efisiensi, merger juga bakal membuat Pelindo sebagai salah satu pemain pelabuhan terbesar dunia. Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo sempat mengatakan, penggabungan ini nantinya akan meningkatkan posisi Pelindo sebagai operator terminal peti kemas terbesar ke-8 di dunia dengan total throughput peti kemas sebesar 16,7 juta TEUs.“Ini tentunya menjadi salah satu tujuan utama agar kita bisa memiliki integrasi pelabuhan yang berskala global dan bisa bersaing di global,” katanya. Direktur Utama Pelindo II Arif Suhartono menjelaskan, sejumlah strategi telah disiapkan untuk mewujudkan visi Pelindo sebagai salah satu operator terbesar dunia. Pertama, setelah merger Pelindo akan melakukan sejumlah transformasi yang meliputi peningkatan standar kualitas operasional pelabuhan melalui pemanfaatan teknologi digital. Kemudian, dengan peningkatan kualitas layanan berbasis pelanggan (customer centric). Selain itu, dengan pengembangan suistainable ports dan persiapan ekspansi regional.

Tidak hanya itu, Pelindo juga akan melakukan penguatan ekosistem logistik melalui peningkatkan kerja sama dengan industri logistik. Lalu melakukan efisiensi supply chain maritim dengan memperluas jaringan pelabuhan, serta meningkatkan nilai perusahaan dengan penguatan struktur keuangan dan pengelolaan aset yang optimal. “Pelindo ke depannya akan memiliki kontrol dan kendali strategis yang lebih baik. Pengembangan perencanaan akan menjadi lebih holistik untuk jaringan pelabuhan, yang akhirnya akan menurunkan biaya logistik,” ujar Arif. Selain itu, untuk memantapkan posisi Pelindo sebagai operator pelabuhan kelas dunia, nantinya juga akan dibentuk empat subholding yang terdiri dari peti kemas, non-peti kemas, logistics & hinterland development, marine, serta equipment & port services.

“Pemfokusan klaster-klaster bisnis akan meningkatkan kapabilitas dan keahlian yang berdampak pada peningkatan kepuasan pelanggan melalui kualitas layanan yang lebih baik,” kata Arif. Dongkrak pertumbuhan ekonomi daerah Integrasi ini juga diproyeksi bakal turut mendongkrak pertumbuhan ekonomi, baik di level daerah, maupun nasional. Pada level daerah, integrasi antar pelabuhan diyakini mempermudah pengembangan kawasan industri dan ekonomi khusus di sekitar pelabuhan di daerah-daerah, sehingga mendorong peningkatan konektivitas hinterland yang akan berdampak pada meningkatnya volume ekspor-impor dan trafik pelabuhan. Sementara secara nasional, integrasi yang bakal menekan biaya logistik akan mendorong distribusi barang dan jasa antar wilayah, yang nantinya berpotensi menciptakaninvestasi-investasi baru, daj pada akhirnya tenaga kerja bakal terserap lebih banyak. “Dengan demikian selain berkontribusi positif pada perekonomian nasional, integrasi juga merangsang pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah,” ucap Prasetyadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *