Biaya Logistik Masih Mahal, Pelindo Akan Benahi Pelabuhan Ambon

 

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menyatakan, biaya logistik di Indonesia masih lebih tinggi dibanding negara-negara kawasan Asia Tenggara lain, seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Direktur Utama Pelindo Arif Suhartono mengatakan, hasil studi Bank Dunia menunjukkan biaya logistik di Indonesia mencapai 23 persen dari total produk domestik bruto (PDB) nasional. “Tidak semua beban biaya logistik ada di Pelindo, tapi juga di instansi lain,” ujar dia, dalam keterangannya, dikutip Jumat (29/7/2022).

Merespons hal tersebut, Arif menyebutkan, pasca merger perseroan fokus melakukan perbaikan di pelabuhan kelolaan, dengan harapan dapat meningkatkan arus peti kemas di pelabuhan. “Dengan pertumbuhan tahunan sekitar lima persen, tahun ini kita punya target 17,3 juta TEUs,” katanya. Salah satu upaya perbaikan perusahaan pelabuhan pelat merah itu dilakukan di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon. General Manager Pelindo Regional 4 Ambon I Nengah Suryana menilai, sebelum perbaikan dilakukan, Pelabuhan Yos Sudarso masih beroperasi dengan sistem manual disertai kondisi lapangan yang berantakan.

Selain itu, semula terminal peti kemas juga bercampur antara lokasi bongkar dan lokasi pemuatan. “Driver truk kontainer butuh waktu cukup lama untuk menemukan peti kemas, baik untuk membongkar atau memuat barang,” kata Nengah Suryana. Oleh karenanya, Pelindo melakukan pembenahan, diawali dengan membuat pemetaan, memisahkan blok bongkaran, blok muatan, dan membuat lokasi khusus untuk Cargo Consolidation and Distribution Center (CCDC).

“Di lokasi inilah barang akan dibongkar dari peti kemas (stripping) dan dimuat ke dalam peti kemas (stuffing). Blok-bloknya jadi jelas,” ujar dia. Kemudian, Pelindo Regional 4 mendatangkan peralatan baru untuk mempercepat proses bongkar muat, di mana perusahaan mulai menggunakan dua container crane (CC) dan rubber tyred gantry (RTG). Penggunaan RTG, kata Nengah Suryana, bisa mempercepat proses bongkar muat karena bisa menyusun peti kemas sampai lima tumpukan, di mana sebelumnya, hanya bisa menumpuk peti kemas maksimal sampai tiga tier. “Hasilnya, kapasitas lapangan peti kemas Ambon naik dari semula 190 TEUs (twenty-foot equivalent unit) menjadi 250 TEUs,” terangnya. Jam operasional pun diubah mengikuti penambahan kapasitas lapangan peti kemas tersebut, yakni dari semula hanya beroperasi hingga pukul 10 malam, menjadi beroperasi selama 24 jam penuh.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *